Permasalahan TPA Piyungan Membuat Warga Rogobangsan Terusik

Permasalahan sampah di Kabupaten Sleman telah menjadi perhatian serius Kabupaten Sleman khususnya warga Rogobangsan Bimomartani Ngemplak, terlebih sejak penutupan oleh warga yang sempat terjadi di TPA Piyungan. Berangkat dari permasalahan yang mengusik  hati warga tersebut diadakanlah sosialisasi dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan yang menjadikan sampah sebagai sumber daya giat dilakukan warga setempat yang sesuai dengan amanat Undang-Undang No 18 Tahun 2008 Pasal 4, yaitu  Tentang Pengelolaan Sampah, tentunya kegiatan ini sangat mendukung dan berguna bagi masyarakat.

Pelaksanaan sosialisasi pengelolaan sampah di tersebut dilaksanakan mulai awal Bulan Maret 2020 sampai dengan akhir Bulan Maret 2020. Kegiatan sosialisasi ini merupakan Program PUPM (Pagu Usulan Partisipasi Masyarakat) Kecamatan Ngemplak Tahun 2020 sebanyak 20 lokasi. Salah satu lokasi sosialisasi pengelolaan sampah adalah di Rogobangsan, Bimomartani, Ngemplak yang dilaksanakan pada Hari Senin tanggal 9 Maret 2020.

Peserta sosialisasi ini terdiri dari tokoh masyarakat dan warga masyarakat. Kegiatan ini dihadiri juga oleh Kepala Desa Bimomartani, Tutik Wahyuningsih dan Camat Ngemplak, Dra.Siti Wahyuningsih. Narasumber Bp. Hariyadi dalam pemaparannya menyampaikan bahwa upaya pengurangan sampah dilakukan dengan berbagai cara seperti pembatasan timbulan sampah, pemanfaatan (guna ulang) sampah, daur ulang sampah dan penyampaian mengenai larangan membuang sampah sembarangan ataupun membakar sampah di tempat terbuka karena dapat menimbulkan polusi dan pencemaran lingkungan. Kemudian, turut dipaparkan pula bagaimana ketentuan pidana bagi yang melanggar.

Kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah ini diakhiri dengan tanya jawab dan diskusi tentang keinginan warga Rogobangsan untuk membentuk bank sampah dalam waktu dekat. Setelah diadakannya sosialisasi pengelolaan sampah ini, masyarakat diharapkan mampu mengelola sampahnya dengan baik dan benar serta dapat segera membentuk kelompok pengelola sampah mandiri. Kelompok ini diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA Piyungan dengan cara memilah barang yang laku jual, membuat kerajinan dari sampah-sampah plastik sehingga menjadi produk yang laku jual, dan membuat kompos dari sampah organik. Setelah terbentuk kelompok pengelola sampah mandiri, masyarakat dapat mengakses berbagai bantuan barang dan kegiatan sosialisasi, pelatihan serta studi banding dari DLH kabupaten Sleman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *