PEMETAAN PENGELOLAAN LIMBAH B3 DOMESTIK DI KABUPATEN SLEMAN

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman mengadakan Focused Group Discussion (FGD) mengenai Pemetaan Pengelolaan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) Domestik, di Rumah Makan Pecel Blora, jl. Dr. Radjiman, Sucen, Triharjo, Sleman, pada hari Sabtu (23/11/2019). Acara ini diselenggarakan dalam rangka Penyusunan Kajian Limbah B3 Domestik Kabupaten Sleman dan diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari unsur pengelola bank sampah, pengelola TPS3R, Sekolah Adiwiyata, Hotel, Restoran dan Mall. Narasumber dalam kegiatan FGD ini diantaranya Kepala DLH Kabupaten Sleman, Ir. Dwi Anta Sudibya, M.T. dan Konsultan Penyusunan Kajian Limbah B3 Domestik, Dambung Lamuara Djaya dari CV. Mitra Multi Daya. Dalam kegiatan ini, peserta diminta memberi opini dan masukan serta membagi pengalamannya terkait dengan pengelolaan limbah B3.

Sebagai pengantar, Ir. Dwi Anta Sudibya, M.T. mengemukakan bahwa inti dari pengelolaan lingkungan hidup adalah pengelolaan limbah, sampah dan ruang terbuka hijau. Beliau juga mengapresiasi adanya kelompok pengelola sampah mandiri (KPSM), baik berupa bank sampah maupun pengelola TPS3R dan komunitasnya yang menjadi ujung tombak dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sedangkan terkait dengan limbah B3, beliau menyampaikan bahwa kewenangan pengelolaan limbah B3 berada di Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah hanya berwenang memberikan ijin sementara untuk penyimpanan sebelum dibawa oleh transporter ke unit pengolahan limbah B3, yang saat ini hanya ada 6 unit di seluruh Indonesia dan 5 diantaranya berada di Pulau Jawa.

Dalam paparannya, Dambung Lamuara Djaya menyampaikan bahwa masyarakat kurang mengenal limbah B3 dan tidak mengetahui bahwa aktivitas rumah tangga dapat menghasilkan limbah B3 yang berbahaya dan rawan terhadap kesehatan dan lingkungan. Hal ini dikarenakan upaya penanganan limbah B3 masih terfokus pada penanganan limbah B3 untuk industri. Dampak kesehatan akibat paparan limbah B3 juga cukup berbahaya, diantaranya gangguan sistim saraf, keterbelakangan mental, gangguan pencernaan, gangguan reproduksi, bahkan sampai kerusakan organ dalam dan cacat fisik. Limbah B3 yang sering dihasilkan di rumah tangga antara lain baterai, lampu listrik, kemasan cat, kemasan pestisida/herbisida/fungisida, sampah produk perawatan diri dan kecantikan, obat-obatan sisa/kadaluwarsa serta sampah produk pemeliharaan rumah. Paparan ini juga mengenalkan tentang jenis limbah B3 dan simbol serta label yang dapat ditemui dalam kemasan produk.

Pada sesi diskusi, terdapat masih banyak KPSM (bank sampah dan pengelola TPS3R) yang hanya memilah limbah B3 berupa baterai dan lampu bekas, sedangkan yang berwujud sisa kemasan masih dikelola dengan cara dijual. Oleh karena itu, perlu adanya klasifikasi limbah B3 berdasarkan tingkat bahaya dan nilai jualnya. KPSM juga perlu mengedukasi para nasabah/pelanggannya untuk dapat mengenal dan sedapat mungkin memilah limbah B3 yang dihasilkan. KPSM juga menanyakan cara penanganan sementara limbah B3 secara sederhana untuk mengurangi tingkat bahaya yang dihasilkan.

Fasilitas publik seperti sekolah pun menghasilkan limbah B3, misalnya persediaan bahan-bahan kimia di laboratorium yang sudah tersimpan lama. Hal ini dapat membahayakan siswa ketika bahan-bahan kimia tersebut tidak ditangani secara tepat. Hal ini disampaikan oleh unsur sekolah yang diwakili oleh 3 sekolah adiwiyata. Sedangkan dari unsur pengusaha swasta yang diwakili oleh Sleman City Hall, menanyakan terkait dengan penampungan sementara limbah B3.

Ir. Dwi Anta Sudibya, M.T. menekankan bahwa DLH Kabupaten Sleman akan mengambil limbah B3 yang sudah dipilah dan dikumpulkan di bank sampah dan TPS3R dan telah disepakati bahwa limbah B3 domestik yang dipilah adalah baterai, lampu bekas dan bahan beracun. Limbah B3 tersebut akan diambil oleh DLH Kabupaten Sleman tanpa biaya dan akan diteruskan ke pihak transporter. Beliau juga menyampaikan bahwa pada saat ini DLH Kabupaten Sleman sudah bekerja sama dengan pihak transporter swasta untuk pengangkutan ke unit pengolahan limbah B3 untuk limbah B3 yang dihasilkan oleh instansi di Pemerintah Kabupaten Sleman.

Dambung Lamuara Djaya menambahkan bahwa mekanisme pengelolaan limbah B3 domestik menjadi tugas dari konsultan untuk merumuskannya dan kemudian menjadi bahan bagi DLH Kabupaten Sleman untuk menetapkan kebijakan dan implementasinya. Selain itu, beliau juga mengingatkan agar limbah B3 tersebut tidak dibakar agar tidak menjadi dioksin yang tersebar di udara yang dapat dengan mudah masuk ke tubuh melalui pernapasan. Sedangkan untuk penyimpanan sementara, limbah B3 dengan kategori tertentu dapat disimpan sampai dengan 360 hari, sedangkan untuk limbah infeksius hanya diperbolehkan selama 2×24 jam di dalam tempat yang kedap air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *