MEMAHAMI ASAL MAKANAN YANG ADA DI MEJA KITA

 

Judul                     : Bisnis Kehidupan

Sub Judul             : Keanekaragaman Hayati, Bioteknologi dan Keserakahan Manusia

Penyunting         : Miges Baumann, Janet Bell, Florianne Koechlin dan Michel Pimbert

Penerbit              : Read Book, Yogyakarta

Tahun                   : Cetakan I, 2001

 

Oleh : Wahyu Nugroho Mardi Utomo

Pernahkah anda bertanya-tanya dari mana asal makanan yang ada di piring kita yang setiap hari kita makan? Kemungkinan besar tidak. Seringkali kita menganggap remeh hal-hal yang demikian tersebut padahal makanan adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita. Peran makanan yang begitu penting hingga dalam dunia Barat muncul idiom “Tell me what you eat and I will tell you what you are” atau dalam idiom yang lebih singkat dan populer yaitu “you are what you eat”, apabila kedua idiom tersebut diterjemahkan secara bebas maka artinya “Kepribadian kita ditentukan oleh makanan yang kita makan”.

Buku ini akan menjelaskan secara gamblang dari mana asal makanan yang kita makan, asal disini bukan hanya menunjukkan lokasi dimana tanaman tersebut ditanam, akan tetapi juga menjelaskan bagaimana tanaman tersebut “dibuat”.  Kita akan dibuat terkejut dengan apa yang sebenarnya kita makan, nasi yang kita makan bisa saja berasal dari gen tumbuhan narsis, jagung, dan bakteri Erwinia disisipkan pada kromosom padi, gen bakteri e-Coli yang disisipkan pada tanaman tomat sehingga Proses pelunakan tomat diperlambat sehingga tomat dapat disimpan lebih lama dan tidak cepat busuk, dan masih banyak lagi gen organisme lain yang disisipkan dalam gen tanaman yang biasanya kita makan. Tanaman yang demikian yang dinamakan sebagai Genetically Modified Organisms (GMO) atau Organisme Rekayasa Genetika sering juga disebut organismne transgenik.

Rekayasa genetika dapat mempercepat secara drastis proses pemuliaan untuk mendapatkan sifat-sifat yang diinginkan dalam hewan dan tanaman. Rekayasa genetika juga memungkinkan penciptaan bentuk kehidupan yang tidak pernah ada di alam, karena gen dari spesies dari spesies yang sama sekali berbeda dapat dipertukarkan dan diimplementasikan. Dengan demikian, rekayasa genetika tidak hanya memberikan alat untuk mempercepat evolusi, tapi juga untuk mendahuluinya.

Makanan hasil rekayasa genetik kini mulai memasuki kehidupan kita. Para ilmuwan telah berhasil memproduksi versi rekayasa dari sebagian besar tanaman pangan utama dunia termasuk padi, kentang, kedelai, jagung dan kapas selain juga sejumlah besar buah-buahan, sayuran, serta pohon-pohon lainnya. Lebih dari 60 spesies tanaman telah direkayasa, kebanyakan telah dipindah dari laboratorium ke tahap uji coba lapangan dan sekarang mulai mencapai pasar. Pada bulan Mei 1994, makanan hasil rekayasa pertama, yaitu tomat yang dibuat agar tahan busuk dilepas di pasar swalayan di Amerika Serikat.

Gambaran kita tentang makanan yang diproduksi oleh para petani-petani sederhana yang biasa kita lihat dan dengan segala romantismenya yang biasa kita bayangkan akan berganti menjadi makanan yang diproduksi oleh para monster yaitu perusahaan-perusahaan multinasional. Para monster inilah yang menjadi dalang dibalik semua rekayasa produk genetika ini sehingga para petani-petani sederhana tersebut tak lain hanyalah budak bagi kepentingan industri pangan atau dalam bahasa buku ini digambarkan sebagai sebuah BISNIS KEHIDUPAN.

Jadi agar dapat menciptakan pasar, perusahaan harus mengubah benih secara material. Penciptaan benih mandul akan mengundang petani untuk terus menerus membeli benih dari para perusahaan monster tersebut. Selain itu, pengenalan terhadap varietas baru hasil rekayasa genetik akan menjadikan petani tergantung kepada pola varietas rekayasa genetik yang baru tersebut dan akan diperlukan modal yang besar bagi para petani untuk mendapatkan benih-benih tersebut  sehingga akan meningkatkan asupan modal dari orang lain yang akan lebih memiskinkan bagi para petani dan efek lainnya seperti merusak keseimbangan lingkungan. Efek kesehatan yang dapat muncul dari tanaman trasgenik ini juga patut kita waspadai walaupun masih banyak perdebatan para ilmuwan di luar sana terhadap efek kesehatan dari tanaman transgenik ini. Akan tetapi pelarangan produk trasngenik di Uni Eropa merupakan indikasi yang kuat mengapa kita seharusnya tidak memakan produk rekayasa teknologi ini.

Buku ini menjadi layak untuk dibaca karena memberikan kita pengetahuan secara holistik mengenai industri pangan yang ada di dunia. Kita akan dibawa dari hulu sampai hilir sebagai apa yang dinamakan bisnis kehidupan. Para penyunting buku ini akan menunjukkan kepada kita apa itu keanekaragaman hayati, paten, bioteknologi, revolusi hijau dan lain sebagainya. Sebagai orang awan tidak mudah memang memahami buku ini karena kita akan diperkenalkan dengan istilah-istilah yang sulit walaupun ada penjelasan untuk istilah-istilah tersebut, akan tetap referensi dari pihak ke-3 dapat membantu untuk lebih memahami buku ini. Menariknya buku ini adalah buku ini tidak disusun dalam bentuk buku yang formal dan kaku akan tetapi buku ini menggunakan tata bahasa yang populer dan disertai tabel, gambar dan kotak informasi yang lebih memperdalam bahasan dalam sebuah topik.

Selamat Membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *